SEMARANG – Dalam suasana Dies Natalis ke-56 UIN Walisongo, suara lantang dan penuh keberanian menggema dari mimbar orasi ilmiah. Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed, menyampaikan kritik tajam terhadap wajah ketidakadilan dunia yang kian nyata, sekaligus mengajak Indonesia untuk tidak lagi diam di tengah arus dominasi kekuatan global.
Di hadapan sivitas akademika dan para tamu undangan, ia menyoroti kondisi hukum internasional yang dinilainya telah kehilangan makna. Menurutnya, tatanan global kini tak lagi berdiri di atas prinsip keadilan, melainkan tunduk pada kekuatan negara-negara besar. Ia menggambarkan situasi ini dengan ungkapan yang sarat makna: yang kuat menentukan aturan, sementara yang lemah hanya bisa menerima.
Mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ia menegaskan bahwa “hukum internasional telah mati.” Ia juga mengaitkannya dengan kearifan lokal Jawa, “asu gedhe menang kerahe,” sebagai refleksi bahwa dalam pertarungan, yang besar dan kuat kerap menjadi pemenang, terlepas dari benar atau salah.
Tak berhenti di situ, Sugeng Ibrahim mengkritik keras sikap dunia yang dinilainya penuh standar ganda. Ia menyinggung serangan Israel ke Gaza serta invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 yang, menurutnya, hanya menuai kecaman tanpa tindakan nyata. Baginya, realitas ini menunjukkan bahwa kebenaran bukan lagi panglima—kekuatanlah yang kini berbicara.
Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki fondasi moral yang jelas. Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan—tanpa pengecualian. Tidak ada ruang kompromi bagi segala bentuk penjajahan, siapa pun pelakunya.
Ia juga menyoroti sikap Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang berani menolak tindakan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti bahwa keberpihakan pada keadilan tidak terikat oleh sejarah masa lalu, bahkan bagi negara yang pernah memiliki jejak kolonialisme.
Dalam momen yang mencuri perhatian, ia melontarkan pantun sindiran yang tajam namun menggugah:
Buah belimbing dijual di Pasar Asemka,
Hanya kambing yang takut kepada Amerika.
Pantun tersebut menjadi simbol pesan tegasnya: bangsa Indonesia tidak boleh gentar terhadap kekuatan asing. Ia menegaskan bahwa rasa takut adalah sikap yang tidak layak bagi bangsa yang meraih kemerdekaan dengan perjuangan panjang dan pengorbanan besar.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan bangsa yang mudah diarahkan tanpa prinsip. Sejarah telah membuktikan keberanian Indonesia saat menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika 1955 dan melahirkan Dasasila Bandung—tonggak penting dalam perjuangan solidaritas dunia.
Di sisi lain, ia juga mengajak refleksi ke dalam negeri. Ia mengapresiasi semangat pembangunan nasional, namun mengingatkan bahwa pembangunan tanpa nurani hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Ia menyoroti eksploitasi hutan di Sumatra yang berubah menjadi perkebunan sawit dan area tambang tanpa kendali, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
“Kita tidak menolak pembangunan. Kita menolak pembangunan yang mengabaikan dampaknya,” tegasnya.
Menutup orasi, Sugeng Ibrahim mengarahkan pandangannya kepada generasi muda. Ia menyerukan keberanian moral dan konsistensi sikap sebagai kekuatan bangsa. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi suara yang mengguncang dunia—bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan keteguhan nilai dan keberanian konstitusional.
Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya bukan sekadar luapan emosi, melainkan panggilan nurani seorang akademisi untuk menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut.
“Biarkan kekuatan besar saling berebut pengaruh. Indonesia harus tetap berdiri di sisi keadilan, karena di situlah jalan menuju kemerdekaan sejati,” pungkasnya.
Orasi ilmiah bertajuk “Merawat Bumi, Merawat Kemanusiaan: Peran Kedokteran, Konstitusi, dan Nurani Bangsa” ini menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-56 UIN Walisongo Semarang—sebuah pengingat bahwa suara kebenaran harus terus dijaga, dan keberanian adalah fondasi utamanya.