FK UIN Walisongo Gelar Workshop Kurikulum, Perkuat Kolaborasi dengan UNDIP untuk Wujudkan Pendidikan Kedokteran Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Semarang, 14 Juni 2026 – Fakultas Kedokteran (FK) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Workshop Kurikulum pada 13–14 Juni 2026 yang diikuti oleh seluruh dosen dan pengelola program studi di lingkungan FK UIN Walisongo. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam penyusunan dan penyempurnaan kurikulum pendidikan kedokteran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, serta standar pendidikan kedokteran nasional.
Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut menghadirkan para fasilitator dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP), yakni Prof. Dr. dr. Tri Nur Kristina, DMM, M.Kes, dr. Lathifa Putry Fauzia, MHPE, dan dr. Santoso, M.Si.Med., Sp.N. Berbagai materi strategis dibahas, mulai dari dasar-dasar pengembangan kurikulum program studi kedokteran, pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), penyelarasan capaian pembelajaran lulusan (CPL), hingga pembahasan dan penyempurnaan dokumen kurikulum serta RPS setiap mata kuliah.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Walisongo Semarang yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro atas dukungan yang selama ini diberikan kepada UIN Walisongo, khususnya dalam pengembangan Fakultas Kedokteran yang masih relatif baru.
Rektor menegaskan bahwa hubungan baik antara UIN Walisongo dan UNDIP telah terjalin sejak lama. Kerja sama tersebut bahkan telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Prof. Satoto dan terus berkembang hingga saat ini. Menurutnya, dukungan dari UNDIP dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) memiliki peran yang sangat penting dalam proses transformasi IAIN Walisongo menjadi UIN Walisongo.
“Pada masa transformasi dari IAIN menjadi UIN, kami mendapatkan dukungan yang luar biasa dari berbagai pihak, termasuk UNDIP dan UNNES. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengembangan UIN Walisongo hingga saat ini,” ungkapnya.

Rektor juga menyampaikan penghargaan kepada Fakultas Kedokteran UNDIP yang saat ini berperan sebagai fakultas pembina bagi Fakultas Kedokteran UIN Walisongo. Pendampingan yang diberikan dinilai sangat membantu dalam menyiapkan berbagai aspek akademik maupun tata kelola pendidikan kedokteran.
Selain pengembangan akademik, Rektor mengungkapkan bahwa UIN Walisongo masih membutuhkan pengalaman dan pendampingan dalam mewujudkan rumah sakit pendidikan. Oleh karena itu, pihaknya berharap kolaborasi dengan UNDIP dapat terus diperkuat, khususnya dalam proses pembangunan rumah sakit pendidikan dan pengembangan kelembagaan Fakultas Kedokteran UIN Walisongo.
“Kami sangat optimis dan berharap UNDIP dapat terus membimbing UIN Walisongo, baik dalam pengembangan Fakultas Kedokteran maupun dalam upaya pembangunan rumah sakit pendidikan yang menjadi kebutuhan penting bagi penyelenggaraan pendidikan kedokteran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa penyusunan kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akreditasi semata. Kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan perkembangan dunia kesehatan yang terus berubah.
Menurutnya, workshop ini merupakan langkah awal yang strategis untuk memastikan kurikulum yang dikembangkan benar-benar relevan dengan tantangan pelayanan kesehatan masa kini dan masa depan. Karena itu, seluruh proses penyusunan kurikulum harus merujuk secara kuat pada standar yang ditetapkan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) agar tidak terjadi kesenjangan antara implementasi pendidikan dan standar mutu yang dipersyaratkan.
Rektor juga mengingatkan bahwa kurikulum merupakan dokumen yang dinamis sehingga harus terus diperbarui dan disempurnakan sesuai perkembangan ilmu kedokteran, teknologi kesehatan, serta kebutuhan masyarakat.
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian dalam pengembangan kurikulum adalah perlunya membangun kekhasan atau distingsi Fakultas Kedokteran UIN Walisongo. Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, FK UIN Walisongo diharapkan mampu menghadirkan integrasi antara ilmu kedokteran dan nilai-nilai keislaman sebagai ciri khas yang membedakannya dengan fakultas kedokteran lainnya.
Melalui workshop ini, FK UIN Walisongo berkomitmen menghasilkan kurikulum yang unggul, adaptif, dan berkarakter, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan pendidikan kedokteran yang berkualitas serta berkontribusi bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Leave a Comment