UIN Walisongo Online, Semarang – Fakultas Kedokteran (FK) UIN Walisongo Semarang menggelar pertemuan dengan orang tua/wali mahasiswa baru angkatan 2026 secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (21/8/2026). Sebanyak 50 wali mahasiswa mengikuti kegiatan ini bersama jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan FK.
Acara dipandu Aldila Dyas N. dan diisi sambutan Dekan, sesi foto bersama secara daring, pemutaran video profil fakultas, pengenalan pimpinan dan dosen, serta sharing inspirasi dari narasumber, Dr. dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, Sp.PD, KPTI, FINASIM. Beliau adalah Kepala Divisi Tropik Infeksi Departemen Medik RSUP Dr. Kariadi Semarang sekaligus pengajar di FK Universitas Diponegoro.
Zoom untuk Mendekatkan Jarak
Dekan FK UIN Walisongo, Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed (AAM), AIFO-K, menyampaikan bahwa angkatan 2026 adalah angkatan kedua FK. Tahun lalu fakultas mengundang orang tua langsung ke Semarang. Tahun ini pertemuan digelar daring karena sebaran asal mahasiswa yang luas, dari Palu hingga Aceh. Meski begitu, orang tua tetap dipersilakan berkunjung ke kampus untuk melihat fasilitas dan menemui pimpinan fakultas.
Ia menyampaikan bahwa FK akan menjalani akreditasi lagi pada Oktober. Ia berharap kelak, setelah FK meluluskan dokter, akreditasi dapat meningkat ke predikat unggul sekitar tiga tahun lagi. FK juga merencanakan pembangunan gedung khusus yang dibiayai Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mulai tahun depan. Rumah sakit pendidikan sendiri di Kampus 1 juga tengah disiapkan. Saat ini rumah sakit pendidikan utama FK adalah RSUD Ungaran.
Perjalanan Panjang Menjadi Dokter
Dr. Sugeng menjelaskan alur pendidikan yang akan ditempuh mahasiswa: delapan semester program sarjana kedokteran, empat semester profesi dokter, uji kompetensi nasional (UKMPPD), lalu internship satu tahun. Evaluasi dilakukan setiap akhir tahun. Karena itu ia mengajak para orang tua mendampingi putra-putrinya selama proses pendidikan yang panjang ini.
Dokter Era Digital: Teknologi Bukan Pengganti Empati
Dalam paparannya, Dr. Muchlis menyebut dunia kedokteran berubah pesat dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI), telemedicine, rekam medis elektronik, big data, perangkat wearable, hingga bedah robotik. Menurutnya, masa depan kedokteran bukan dokter melawan robot, melainkan dokter yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi. Robot memiliki tangan yang presisi, tetapi belum memiliki empati.
Ia memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi mahasiswa kedokteran saat ini:
Banjir informasi. Mahasiswa dituntut menguasai empat keterampilan: mencari, menyaring, memverifikasi, lalu menerapkan informasi. Informasi kesehatan yang viral perlu dicek dulu sebelum disebarkan.
Distraksi media sosial. Notifikasi dan konten singkat memecah konsentrasi serta mengganggu tidur. Ia mengajak mahasiswa menggunakan media sosial sebagai alat belajar, bukan membiarkannya menyita waktu belajar.
Ketergantungan pada AI. AI sebaiknya menjadi “co-pilot”, bukan “auto-pilot”. Jawaban AI bisa keliru, dan data pasien tidak boleh sembarangan dimasukkan ke sistem AI.
Burnout digital. Mahasiswa perlu mengatur perhatian dan energi, serta menyediakan waktu untuk “disconnect” sebelum kembali terhubung.
Dr. Muchlis menegaskan bahwa dokter yang dibutuhkan pasien tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas, disiplin, rendah hati, dan berempati. Ia mengajak mahasiswa melatih ketahanan mental sejak semester pertama.
Pesan untuk Orang Tua
Kepada para orang tua, Dr. Muchlis menekankan bahwa keluarga adalah tempat pulang ketika kampus terasa berat. Ia mengajak orang tua menjadi pendengar yang baik, menghargai proses, tidak membandingkan anak dengan anak lain, serta menjaga komunikasi. Ia menyarankan agar pertanyaan “nilainya berapa?” sesekali diganti dengan “Apa yang bisa kami bantu, Nak?”
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa bertumpu pada tiga pilar yang harus berjalan bersama, yaitu mahasiswa, fakultas, dan keluarga. Orang tua juga diajak berkolaborasi dengan dosen wali agar kesulitan belajar dapat terdeteksi sejak dini.
Menanggapi paparan tersebut, Dr. Sugeng menyebut Dr. Muchlis sebagai teladan karakter dokter yang ideal, yakni tenang, lembut tutur katanya, dan murah senyum. Ia berharap mahasiswa FK UIN Walisongo angkatan 2026 kelak dapat mendekati keteladanan tersebut. Ia menegaskan bahwa fakultas bersungguh-sungguh mendidik, tetapi dukungan moral orang tua tetap menjadi yang utama.
Pertemuan ditutup dengan harapan agar kegiatan ini menjadi awal perjalanan yang baik, penuh semangat, dukungan, dan keberkahan bagi mahasiswa FK UIN Walisongo angkatan 2026.